Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Dengan mempelajari pustaka-pustaka, diantaranya Panji Amalat Rasmi (Jaman Jenggala) pada abad ke XI di Jawa Timur, Galungan itu sudah dirayakan. Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI, perayaan semacam ini juga sudah diadakan. Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat angayubagia, bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. Ngaturang maha suksmaning idép, angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi.

Yang terpenting, dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap batin. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menurut apa yang umum dilakukan oleh umat. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin.

Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma.

Memilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut: Hari pertama = Sang Bhuta Galungan. Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang). Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan. Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan. Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit). Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu.

Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.

Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing.

Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan. Penjor terpancang di muka rumah dengan megah dan indahnya. Ia adalah lambang pengayat ke Gunung Agung, penghormatan ke hadirat Ida Sanghyang Widhi. Janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan semata-mata. Lebih-lebih pada hari raya Galungan, karena penjor adalah suatu lambang yang penuh arti. Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti: padi, jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Ini mempunyai arti: Penggugah hati umat, sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia, bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. Semua yang kita pergunakan adalah karuniaNya, yang dilimpahkannya kepada kita semua karena cinta kasihNya. Marilah kita bersama hangayu bagia, menghaturkan rasa Parama suksma. Kita bergembira dan bersukacita menerima anugrah-anugrah itu, baik yang berupa material yang diperlukan bagi kehidupan, maupun yang dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin. Dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan. Mewujudkan kegembiraan dengan judi, mabuk, atau pengumbaran indria dilarang agama. Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan (kesusilaan sosial dan kesusilaan agama) misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian, malam sastra, mapepawosan, olahraga dan lain-lainnya. Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila.

Agama disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Selanjutnya oleh umat Hindu di Bali dilakukan persernbahyangan bersama-sama ke semua tempat persembahyangan, misalnya: di sanggah/ pemerajan, di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya. Sedangkan oleh para spiritualis, Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana, dyana dan yoga semadhi. Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu (tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain. Seterusnya di Kahyangan Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot / alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Widhi-widhananya untuk di Sanggah/ parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah woh, penek ajuman, kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik atau ayarn, dibuat rawon dan sebagainya. Sesudah selesai menghaturkan upacara dan upakara tersebut kemudian kita menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya, untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban- kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman batin manusia.

Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi oleh suasana suci hening, mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia. Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut. Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.

Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin. Kesimpulan: Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugrah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa. Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia. Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya. Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugrah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.

Om, sampurna ya nama swaha.

Om, sukham bhawantu.

 

MAKNA Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan dimaknai kemenangan Dharma (Kebaikan) melawan aDharma (Keburukan), dimana pas Budha Kliwon wuku Dunggulan kita merayakan dan menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan YME). Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Makna Hari Raya Kuningan

Hari Raya Kuningan atau sering disebut Tumpek Kuningan jatuh pada hari Sabtu, Kliwon, wuku Kuningan. Pada hari ini umat melakukan pemujaan kepada para Dewa, Pitara untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin. Pada hari ini diyakini para Dewa, Bhatara, diiringi oleh para Pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari saja, sehingga pelaksanaan upacara dan persembahyangan Hari Kuningan hanya sampai tengah hari saja.

Sesajen untuk Hari Kuningan yang dihaturkan di palinggih utama yaitu tebog, canang meraka, pasucian, canang burat wangi. Di palinggih yang lebih kecil yaitu nasi selangi, canang meraka, pasucian, dan canang burat wangi. Di kamar suci (tempat membuat sesajen/paruman) menghaturkan pengambeyan, dapetan berisi nasi kuning, lauk pauk dan daging bebek. Di palinggih semua bangunan (pelangkiran) diisi gantung-gantungan, tamiang, dan kolem.

Untuk setiap rumah tangga membuat dapetan, berisi sesayut prayascita luwih nasi kuning dengan lauk daging bebek (atau ayam). Tebog berisi nasi kuning, lauk-pauk ikan laut, telur dadar, dan wayang-wayangan dari bahan pepaya (atau timun). Tebog tersebut memaki dasar taledan yang berisi ketupat nasi 2 buah, sampiannya disebut kepet-kepetan. Jika tidak bisa membuat tebog, bisa diganti dengan piring. Sesayut Prayascita Luwih : dasarnya kulit sesayut, berisi tulung agung (alasnya berupa tamas) atasnya seperti cili. Bagian tengahnya diisi nasi, lauk-pauk, di atasnya diisi tumpeng yang ditancapkan bunga teratai putih, kelilingi dengan nasi kecil-kecil sebanyak 11 buah, tulung kecil 11 buah, peras kecil, pesucian, panyeneng, ketupat kukur 11 buah, ketupat gelatik, 11 tulung kecil, kewangen 11 pasucian, panyeneng, buah kelapa gading yang muda (bungkak), lis bebuu, sampian nagasari, canang burat wangi berisi aneka kue dan buah. Sesajen ini dapat juga dipakai untuk sesajen Odalan, Dewa Yadnya, Resi Yadnya dan Manusa Yadnya.

Beberapa perlengkapan Hari Kuningan yang khas yaitu: Endongan sebagai simbol persembahan kepada Hyang Widhi. Tamyang sebagai simbol penolak malabahaya. Kolem sebagai simbol tempat peristirahatan hyang Widhi, para Dewa dan leluhur kita.

Pada hari Rabu, Kliwon, wuku Pahang, disebut dengan hari Pegat Wakan yang merupakan hari terakhir dari semua rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu sesayut Dirgayusa, panyeneng, tatebus kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian berakhirlah semua rangkaian hari raya Galungan-Kuningan selama 42 hari, terhitung sejak hari Sugimanek Jawa

Fungsi dan Makna Warna dalam Dewata Nawa Sanga

Berdasarkan simbol simbol yang ada dalam Dewata Nawa Sanga, maka fungsi dan makna warna dalam Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu dapat dianalisis seperti dibawah ini :
  1. Makna warna hitam yang berada disebelah utara dengan Dewa Wisnu menurut budaya hindu berarti gunung, dengan fungsi sebagai pemelihara. Menurut makna MSA berarti arang, gelap, sedangkan makna universal memiliki makna : heightàgreatness, massà generousity, source of living, gelap, ketakutan, sial, kematian, penguburan, penghancuran, berkabung, anarkisma, kesedihan, suram, gawat (kesan buruk) dan (kesan baik) berarti : kesalehan, kealiman, kemurnian, kesucian, kesderhanaan India ; pemelihara kehidupan, limitless, immortal
  2. Makna warna Merah yang berada di Selatan dengan Dewa Brahma dengan pusaka Gada dan tanda api memiliki makna budaya laut, pencipta dan kekuatan, sedangkan menurut MSA berarti api dan darah. Makna universal yang terkandung dalam warna merah adalah : sumber dari segala sumber, berani, cinta , emosi , darah (rudhira), kehidupan, kebesaran, emosi, kemegahan, murah hati, cantik, hangat, berani, api, panas, bahaya, cinta (manusia à ß Tuhan), perang, sumber panas, benih dari kehidupan
  3.  Makna warna Putih dengan Dewa Iswara yang bersenjata Bajra, berada di sebelah Timur, dan dengan tanda jantung mempunyai makna matahari, pelebur, dan sumber kebangkitan. Makna putih dari MSA berarti terang, salju, dan susu dan makna universal berarti penerangan, pahlawan , sorga, kebangkitan, centre of human body, cinta, kesetiaan, penyerahan diri, absolut, suci, murni, lugu, tidak berdosa, perawan, simbol persahabatan, damai, jujur, kebenaran, bijaksana, alat untuk mencapai surga, kekeuatan angin
  4. Makna warna Kuning disebelah Barat dengan Dewa Mahadewa dengan senjata Nagasapah dan tanda lingkungan kabut memiliki makna budaya matahari terbenam, penjaga keseimbangan dan kekuasaan, sedangkan MSA berarti matahari. Makna universal dari warna kuning adalah end of journey, passive, (bad image) ; cemburu, iri, dengki, dendam,bohong, penakut, (good image) ; cahaya, kemuliaan, keagungan, kesucian, murah hati, bijaksana, penyatuan unsur udara + air dan tanah à evolutive process:
  5. Makna warna Hijau yang berada di sebelah barat laut dengan Dewa Sangkara dan senjata angkus, dengan tanda lingkungan mendung memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam & laut, keseimbangan, kesempurnaan dalam MSA berarti tumbuh-tumbuhan, dan secara universal memiliki makna akhir dari segalanya, tumbuhan, kehidupan, kesuburan, vitalitas, muda, kelahiran kembali, harapan, kebebasan, dan simbol : kesuburan, kurir (messenger ), prophet
  6. Makna warna Biru yang dalam Dewata Nawa Sanga berada di Timur Laut dengan Dewa Sambu bersenjata Trisula, dengan tanda lingkungan awan tebal memiliki makna budaya penyatuan matahari & laut, keseimbangan alam, penyatuan kebang-kitan, pemeliharaan dan pemusnahan ; kebebasan rohani. Dalam MSA biru berarti laut, langit, sedangkan makna universalnya adalah sumber dari segala sumber, senser, assosiated with the idea of birth and rebirth, sorga, langit, bangsawan, melankolis, jujur, cinta, setia, kebenaran, distincttion, excellence, kesedihan, dan makna asosiasi : hujan, banjir, kesedihan
  7. Makna warna Dadu yang dalam Dewata Nawa Sanga berada disebelah tenggara dengan dewa Mahesora bersenjata dupa dan tanda lingkungan rambu (awan tipis) memiliki makna budaya penyatuan antara gunung dan matahari, keseimbangan alam, pembunuh indria. Menurut MSA, warna dadu memiliki makna yang sama dengan makna asali dari warna putih dan merah. Makna universalnya adalah : kebangkitan, kesadaran, kesadaran, kehidupan, halus, anggun, megah, persahabatan, kedamaian, emosional, dan dingin
  8. Makna warna Jingga dengan Dewa Rudra bersenjata Moksala yang berada di sebelah Barat Daya dengan tanda lingkungan halilintar, memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam dan gunung, pembasmi, kedahsyatan, sumber kemurkaan. Sedangkan makna Jingga menurut MSA merupkan makna yang terkandung dalam warna merah dan kuning. Makna Universal warna kuning adalah darah, the concept of circulation, kematian, bahaya, kehidupan, hangat, dendam, murka, pengorbanan, penyerahan diri, active force, supreme creative power, illumination, penyerahan, dan pengorbanan.
  9. Makna warna Brumbun yang merupakan campuran warna putih + kuning + hitam + merah yang berada di tengah dengan Dewa Ciwa bersenjata Padma dan tanda lingkungan topan memiliki makna budaya pusat, pemusnah dan dasar dari semua unsur, kesucian. Makna warna ini menurut MSA adalah makna asali dari warna putih, kuning, hitam dan merah, sedangkan makna universalnya adalah : moving from : multiplicityà unity, space à spacelessness, time à timelessness, a mean toward contemplation and concentration, kesucian, victory, denote the interco-munication between inferior and the supreme, 5 = health, love , controller, violent, evil power

Topeng Gajah Mada ‘’Sihir’’ Ribuan Umat. Ketua DPD RI Hadiri Karya di Pura Tangkas Kori Agung

Topeng-Gajah-Mada-Sihir-Ribuan-Umat Ketua-DPD-RI-Hadiri-Karya-di-Pura-Tangkas-Kori-Agung
Puncak karya agung mamungkah, nubung padagingan dan ngenteg linggih di Pusat Pura Kawitan Tangkas Kori Agung, Desa Tangkas, Klungkung, dilaksanakan Kamis (23/8) kemarin. Puncak karya diikuti ribuan warga Tangkas Kori Agung yang memadati areal Pura. Pelaksanaan karya juga berlangsung khidmat, terlebih diikuti dengan pementasan langka yakni pementasan Topeng Gajah Mada yang didatangkan dari Puri Blahbatuh, Gianyar.
Prosesi tersebut dipuput Ida Pedanda Gde Putra Tembau dari Geriya Aan, Ida Pedanda Jelantik Sogata dari Geriya Wanasari, Sidemen serta Ida Pedanda Putra dari Geriya Jumpung Kamasan. Hadir Ketua DPD RI, Irman Gusman, dan anggota DPD Kadek Arimbawa alias Lolak serta sejumlah tokoh yang juga warga Tangkas Kori Agung seperti Bupati Klungkung, Wayan Candra; Bupati Karangasem, Wayan Geredeg, Prof. DR Nyoman Suparta.
Prosesi dimulai sekitar pukul 08.00 wita. Topeng Gajah Mada diarak dari Desa Kamasan menuju Pura Tangkas Kori Agung disertai baleganjur dan diiringi ribuan warga Tangkas Kori Agung. Prosesi diawali dengan berupa penyambutan. Sebelum akhirnya Topeng Gajah Mada yang dikeramatkan itu ditempatkan di Bale Pengaruman.
Yang membuat sakral lagi, pementasan topeng Gajah Mada tersebut tidak boleh difoto. Pihak panitia karya berulang kali mengingatkan awak media agar tidak mengambil gambar saat Topeng Gajah Mada masolah (dipentaskan). Topeng Gajah Mada dipundut (ditarikan) oleh Gusti Ngurah Serama Semadi dari Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar. Pementasan Tari Topeng Gajah Mada tidak berlangsung lama sekitar 10 menit. Namun sebelum Topeng Gajah mesolah, sempat diawali dengan pementasan tari Topeng Sri Aji Kresna Kepakisan.
Ketua DPD RI, Irman Gusman, yang hadir dalam kesempatan tersebut mengaku baru pertama kali melakukan perjalanan spiritual ke Bali. Dia juga melihat pelaksanaan karya di Bali sesuatu yang luar biasa. ‘’Inilah kekayaan nusantara yang mencerminkan keragaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apalagi upacara ini dilaksanakan penuh antusias dengan dihadiri umat se-Indonesia,’’ ujar Irman Gusman.
Sementara Bupati Candra pada ksempatan tersebut berharap umat sedharma makin mendekatkan diri kepada Ida Sanghyang Widi Wasa dan melaksanakan kewajiban selaku umat beragama. ‘’Saya merasa bangga dan berterima kasih karya ini dihadiri oleh pejabat negara,’’ kata Candra seraya mengharapkan ke depan warga Tangkas Kori Agung lebih meningkatkan rasa persaudaraan.

Perthi Sentana Tangkas Kori Agung Melasti Ring Segara Watu Klotok Klungkung Bali

Hari ini Senin, 20 Agustus 2012 tepatnya Soma Umanis Sungsang 20 Agustus 2012 Perthi Sentana Tangkas Kori Agung melaksanakan upacara melasti di Segara Watu Klotok Klungkung Bali yang pelaksanaannya dimulai sejak jam 07.00 wita. Adapun makna dari upacara melasti sesuai yang tertulis dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang berbunyi :
Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata anganyutaken laraning jagat papa klesa, letuhing bhuwana.
Maksudnya: Melasti adalah meningkatkan Sraddha dan Bhakti pada para Dewata manifestasi Tuhan Yang Mahaesa untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa dan mencegah kerusakan alam. Upacara melasti sebagai pendahuluan dari Puncak Karya Memungkah lan Ngenteg Linggih di Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung pada Wrespati Wage Sungsang – Kamis, 23 Agustus 2012. Dalam kutipan Lontar Sang Hyang Aji Swamandala menjelaskan empat tujuan Melasti tujuannya yang tertinggi dinyatakan dalam Lontar Sunarigama yang dinyatakan dalam bahasa Jawa Kuno sebagai berikut : ”Melasti ngaran amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara. ” Maksudnya: Dengan Melasti mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudra. Dua kutipan Lontar tersebut sudah amat jelas menjelaskan bahwa makna upacara Melasti itu sebagai proses untuk mengingatkan umat manusia akan makna tujuan hidupnya di bumi ini. Tuhan telah menciptakan berbagai sumber alam sebagai wahana dan sarana kehidupan bagi umat manusia hidup di bumi ini. Untuk hidup di bumi ini hendaknya menggunakan sari-sari alam ciptaan Tuhan. Ini artinya hendaknya dihindari mengeksploitasi sumber alam ini secara berlebihan. Adapun makna dari Upacara melasti adalah sebagai berikut :
  1. Ngiring Prawatek Dewata. Artinya membangun sikap hidup untuk senantiasa menguatkan sraddha bhakti serta patuh pada tuntunan para Dewata sinar suci Tuhan. Umat Hindu di Bali melakukan Upacara Melasti dengan melakukan pawai keagamaan yang di Bali disebut mapeed untuk melakukan perjalanan suci menuju sumber air seperti laut dan sungai atau mata air lainnya yang dianggap memiliki nilai sakral secara keagamaan Hindu. Saat perjalanan suci dengan mapeed itu umat diharapkan melakukan bhakti pada Dewata manifestasi Tuhan dengan simbol-simbol sakral yang lewat di depan rumahnya atau sembahyang bersama saat sudah di tepi laut atau sungai.
  2. Anganyutaken Laraning Jagat. Artinya dengan Upacara Melasti umat dimotivasi secara ritual untuk membangkitkan spiritual kita untuk berusaha menghilangkan Laraning Jagat. Istilah Laraning Jagat ini memang sulit sekali mencari padanannya agar ia tidak kehilangan makna. Kata Lara dan Jagat sudah sangat dipahami oleh umat Hindu. Lara ini agak mirip dengan hidup menderita. Hanya yang disebut dengan Lara tidaklah semata-mata orang yang miskin materi. Banyak juga orang kaya, orang berkuasa, orang yang berpendidikan tinggi, keturunan bangsawan hidupnya Lara. Orang kaya menggunakan kekayaannya untuk membangkitkan kehidupan yang mengumbar hawa nafsu. Kekuasaan dijadikan media untuk mengembangkan ego untuk sombong atau menggunakan kekuasaan untuk mengeruk keuntungan pribadi bukan untuk mengabdi pada mereka yang menderita. Demikian juga banyak ilmuwan menjadi sombong karena merasa diri pintar. Banyak juga orang yang meninggi-ninggikan kewangsaannya. Sifat-sifat yang negatif itulah yang akan menimbulkan disharmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Jadinya menghilangkan Laraning Jagat hendaknya diaktualisasikan untuk menghilangkan sumber penderitaan masyarakat baik yang bersifat Niskala maupun yang bersifat Sekala.
  3. Anganyutaken Papa Klesa. Para Pinandita maupun Pandita dalam mengantarkan Upacara Keagamaan Hindu selalu mengucapkan Mantram: Om Papa Klesa Winasanam. Mantram ini hampir tidak pernah dilupakan. Arti Mantram tersebut adalah: Ya Tuhan semoga Papa Klesa itu terbinasakan. Hidup yang ”papa” disebabkan oleh sifat-sifat klesa yang mendominasi diri pribadi manusia. Mengenai Klesa sebagai lima kekuatan negatif yang dibawa oleh Unsur Predana sudah diterangkan di bagian depan dari tulisan ini. Lima klesa yaitu Awidya, Asmita, Raga, Dwesa dan Abhiniwesa. Kelima hal inilah yang harus diatasi agar jangan hidup ini menjadi papa. Hidup yang papa itu adalah hidup yang berjalan jauh di luar garis Dharma yang membawa orang semakin jauh dari Tuhan.
  4. Anganyuntaken Letuhing Bhuwana. Yang dimaksud dengan Bhuwana yang ”Letuh” adalah alam yang tidak lestari. Letuh artinya kotor lahir batin. Atau dalam istilah Sarasamuscaya disebut Abhuta Hita artinya alam yang tidak lestari. Bhuta artinya unsur yang ada. Bhuta itu ada lima sehingga disebut Panca Maha Bhuta. Lima Bhuta tersebut adalah: pertiwi, apah, bayu, teja dan akasa. Lima unsur alam itulah yang wajib kita jaga kesejahteraannya. Jangan lima unsur Bhuta itu diganggu kelestariannya. Jadinya Upacara Melasti itu adalah untuk menanam nilai-nilai filosofis tersebut, sehingga setiap orang termotivasi untuk melakukan tiga langkah tersebut dalam hidupnya secara sadar dan terencana sebagai wujud bhakti pada Tuhan. Tentunya Upacara Melasti akan menjadi mubazir kalau bhakti kita pada Tuhan tidak diwujudkan untuk membenahi diri dengan menjadikan informasi agama sebagai kekuatan melakukan transformasi diri menghilangkan Panca Klesa. Dari diri yang berubah itulah, kita meningkatkan kepedulian kita pada perbaikan sosial yang disebut ”Anganyutaken laraning jagat”. Selanjutnya Melasti untuk memotivasi umat melakukan upaya pelestarian alam lingkungan.

Karya Agung Memungkah, Mubung Pedagingan Lan Ngenteg Linggih Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung

Sehubungan akan dilaksanakannya Karya Agung Memungkah, Mubung Pedagingan lan Ngenteg Linggih ring Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung yang puncak karyanya akan dilaksanakan pada  Wrespati Wage Sunsang – Kamis,  23 Agustus 2012 dengan Pepalihan Upacara sebagai berikut :
  1. Tanggal 06 April 2012, Sukra Kliwon Medangkungan : Matur piuning / mapejati ring Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Tangkas mwang Pura – pura sane kabuatang.
  2. Tanggal 07 Arpil 2012, Saniscara Umanis Medangkungan : Nanceb Taring mwang wewangunan tiosan malih.
  3. Tanggal 20 Mei 2012, Redite Wage Wayang : Nunggilang wyadin nyakapang Palemahan Pura.
  4. Tanggal 01 Juni 2012, Sukra Umanis Klawu : Nuur Tirta, Ngingsah mwang Sidakarya (Tirta Empul Tampak Siring , Sidakarya Badung)
  5. Tanggal 04 Juni 2012, Soma Wage Dukut : Nuasen Karya, ngawit nyuci, negtegang beras, ngunggahang sunari, mapengalang .
  6. Tanggal 18 Juli 2012, Buda Pon Taulu : Memineh Empehan, mekarya Minyak Catur.
  7. Tanggal 12 Agustus 2012 : Ngajum Pedagingan.
  8. Tanggal 17 Agustus 2012, Sukra Pon Julungwangi : Mapapada Tawur Balik Sumpah Agung.
  9. Tanggal 18 Agustus 2012, Saniscara Wage ulungwangi : Tawur Balik Sumpah Agung, Melaspas, Mendem Pedagingan.
  10. Tanggal 19 Agustus 2012, Redite Kliwon Sungsang : Nuwur Tirta Upasaksi Karya kurang lebih 30 lokasi.
  11. Tanggal 20 Agustus 2012, Soma Umanis Sungsang : Ngaturang Caru Manca Klud ring tepi segara, melasti, mwang mapekelem saha nuur tirta.
  12. Tanggal 22 Agustus 2012, Buda Pon Sungsang : Mapapada Karya mwang memben.
  13. Tanggal 23 Agustus 2012, Wrespati Wage Sungsang : PUNCAK KARYA.
  14. Tanggal 24 Agustus 2012, Sukra Kliwon Sungsang : Penganyar Kabupaten Karangasem.
  15. Tanggal 25 Agustus 2012, Saniscara Umanis Sungsang : Penganyar Kabupaten Bangli.
  16. Tanggal 26 Agustus 2012, Redite Paing Dungulan : Penganyar Kabupaten Gianyar.
  17. Tanggal 27 Agustus 2012, Soma Pon Dungulan : Penganyar Kabupaten Badung / Kota Denpasar.
  18. Tanggal 28 Agustus 2012, Anggara Wage Dungulan : Penganyar Panitia.
  19. Tanggal 29 Agustus 2012, Buda Kliwon Dungulan : Penganyar Kabupaten Klungkung.
  20. Tanggal 30 Agustus 2012, Wraspati Umanis Dungulan : Penganyar Kabupaten Buleleng.
  21. Tanggal 31 Agustus 2012, Sukra Paing Dungulan : Nyenuk, Mekebat Daun – Panitia.
  22. Tanggal 01 September 2012, Saniscara Pon Dungulan : Penganyar Kabupaten Jembrana.
  23. Tanggal 02 September 2012, Redite Wage Kuningan : Rsi Bhojana.
  24. Tanggal 03 September 2012, Soma Kliwon Kuningan : Penganyar Kabupaten Tabanan.
  25. Tanggal 04 September 2012, Anggara Umanis Kuningan : Penyineb mwang mendem Bagia Pula Kethi.
  26. Tanggal 09 September 2012, Redite Umanis Langkir : Me – Ajar – ajar di Goa Lawah.
Demikian urutan Karya Agung Memungkah, Mubung Pedagingan lan Ngenteg Linggih ring Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung yang Puncak Karya nya dilaksanakan pada Kamis, 23 Agustus 2012. Semoga Ida Betara Kawitan selalu memberikan Sinar Suci-Nya kepada kita sekalian.

Hari Ini Puncak Karya Agung ”Mamungkah, Nubung Pedagingan lan Ngenteg Linggih” 23 Agustus 2012

Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung
PUNCAK Karya Agung Mamungkah, Nubung Pedagingan lan Ngenteg Linggih di Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung, di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung berlangsung Kamis (23/8) hari ini. Hal itu disampaikan Koordinator Humas Karya Drs. Gde Nurjaya, M.M. didampingi panitia Komang Agus Sudyatmika dan Putu Antara, Rabu (22/8) kemarin. Pelaksanaan karya ini sudah dimulai sejak 6 April lalu yang diawali dengan prosesi ritual matur piuning. Pada puncak karya hari ini, dilangsungkan upacara pengebek, pengenteg, pengodal agung, paselang dan pedanan yang di-puput sekitar sembilan sulinggih.

Sebagai yajamana karya Ida Pedanda Gede Putra Tembau dari Gria Gede Aan, Prawartaka Karya Ir. I Wayan Sukasta, P.M., Penasihat Wayan Candra (Bupati Klungkung) dan Wayan Geredeg (Bupati Karangasem), Pengerajeg Karya Prof. Dr. Ir. Nyoman Suparta, M.S., M.M., Pengajeng Karya/Penglingsir Drs. I Nyoman Oka Bagiartha dan sebagai Klian Pengempon Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung I Nengah Dirga Yusa.

Ditambahkannya, sebelum pelaksanaan karya agung ini, ada perluasan areal pura dari sebelumnya 23 are sekarang menjadi 75 are serta diikuti dengan perbaikan sejumlah palinggih seperti palinggih meru tumpang lima, palinggih meru tumpang tiga, palinggih gedong, bale kulkul, candi bentar, palinggih Ratu Tapakan dan sebagainya. Di pura ini dipuja Batara Lingsir, Sire Arya Kanuruhan beserta pertisentana dan Pangeran Tangkas Kori Agung yang mempunyai tiga putra yaitu Kiyai Brangsinga, Kiyai Tangkas dan Kiyai Pegatepan.

Dikatakannya, pada 18 Agustus lalu telah dilangsungkan upacara mendem pedagingan yang dihadiri Gubernur Bali yang diwakili Sekda Bali, para bupati dan ketua DPRD kabupaten/kota se-Bali. “Melalui pelaksanaan karya ini kami mohon kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa dan Batara Kawitan agar jagat beserta isinya diberkati kerahayuan, kasukerthan dan kedamaian,” ujarnya.

Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung di-sungsung oleh sekitar 40 ribu KK warga Tangkas Kori Agung yang tersebar di Bali dan luar Bali. Biaya pelaksanaan karya agung ini dianggarkan sekitar Rp 1,6 miliar yang bersumber dari dana punia dan pepeson wajib Rp 20 ribu per KK, beras 2 kg dan dua kepeng jinah bolong panca datu.

Karya agung seperti ini sebelumnya sempat dilangsungkan pada tahun 1956, kemudian tahun 1985 dan sekarang 2012. Sesuai sastra agama, kata Nurjaya, karya agung Mamungkah, Nubung Pedagingan lan Ngenteg Linggih mesti dilangsungkan setiap 25 tahun sekali.

Babad Arya Kanuruhan (Brangsinga, Tangkas, Dan Pegatepan)

1. Latar Belakang.

Terdorong keinginan untuk mengetahui riwayat dari kawitan Tangkas yang hingga sekarang ini masih kacau karena masing masing buku memberikan penjelasan – penjelasan yang berbeda -beda, sehingga timbul niat kami untuk mencari titik kebenaran tentang riwayat Tangkas tersebut, seperti asal usul mereka dan apa fungsinya di dalam menjalankan tugas negara dan agama.

Untuk menelusuri ini kami mulai bertitik tolak dari sejarah Zaman Kediri, Singosari, dan Majapahit, karena ketiga kerajaan ini dapat memberikan andil yang sangat besar terutama dalam bidang kesusasteraan, karena kesusastraan pada zaman ini banyak menguraikan tokoh tokoh yang nantinya sangat erat hubungannya dengan warga- warga yang ada di Bali

2. Ruang Lingkup.

Dalam menguraikan suatu babad, perlu kami batasi sampai di mana kami menggali babad tersebut. Riwayat ini kami gali mulai adanya kerajaan Kediri, yang kemudian dilanjutkan dengan berdirinya kerajaan Singosari dan Majapahit, expedisi Gajah Mada ke Pulau Bali, yang pada waktu itu diperintah oleh Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten dengan maha patihnya yang bernama Ki Pasung Grigis, membawa suatu hikmah tersendiri terhadap perkembangan Warga yang berada di pulau Bali. Setelah beberapa lama maka Gajah Mada mengirim raja ke Bali yaitu Kresna Kepakisan dengan berstana di Samplangan. Setelah berhasilnya pemerintahan Sri Kresna Kepakisan maka masing – masing Arya diangkat menjadi Menteri atau Punggawa.

Di dalam beberapa naskah menyebutkan bahwa Arya Kanuruhan mendapat tugas di Tangkas, dan Arya inilah yang mendirikan tempat pemujaan di Desa Tangkas, guna memuja leluhur mereka yang ada di Tanah Jawa, yang kemudian menjadilah Pura Kawitan Tangkas Kori Agung sekarang.

Demikianlah ruang lingkup pcmbahasan kami dalam menyusun riwayat Arya Kanuruhan, sebagai peletak batu pertama di Pura Kawitan Tangkas.

LELUHUR KELUARGA ARYA KANURUHAN DI TANAH JAWA.

Untuk menelusuri leluhur keluarga Tangkas di Tanah Jawa, kita tidak dapat lepas dari kerajaan Kediri karena leluhur Tangkas ini dibesarkan di keraton Kediri

Pada tahun 1222, maka memerintahlah raja Kediri yang tcrakhir yang bernama Kertajaya (sering disebut dengan nama Dandang Gendis). Kemudian raja Kertajaya mendapat serangan dari Ken Arok, sehingga terjadilah pertempuran yang sengit antara Ken Arok dan pasukan Kediri dimana pasukan Kediri berhasil dikalahkan dalam pertempuran. Di dalam masa kehancuran dari kerajaan Kediri ini, maka pasukan Kediri lari tunggang langgang.

Maka tersebut dua orang perwira yang sangat gagah berani yang masih ada hubungan darah dengan Jaya Katwang dan Ciwa Waringin yaitu Jaya Katha dan Jaya Waringin. Didalam pertempuran yang sengit Jaya Katha dapat pula melarikan diri beserta dengan istrinya de daerah Tumapel, dimana istri tersebut scdang hamil tua. Di daerah Tumapcl inilah beliau disambut oleh keluarga Gajah Para ( keluarga dan istri) dan keluarga Kebo !jo.

Di daerah Tumapel beliau lama disana yang akhimya beliau mclahirkan putra 3 ( tiga ) orang seperti tersebut dalam Babad Arya Kanuruhan sebagai berikut :

” Pira kunang Suwenira hanengkana marek pawekang kala, ri wekasan Jaya Katha awangsa jaiu tatiga; Jyesta abhiseka Arya Wayahnn Dalem Manyeneng. Panghulu apanagaran Arya Katanggaran, Pamungsu Arya Nuddhata, tan waneh ibu sira katiga sangkana Wangsan sira Jaya Katha.

Arti bebas :

Setelah sedemikian lama beliau berada di sana (Tumapel) maka akhirnya Jaya Katha melahirkan 3 orang putra yang bernama Arya Wayahan Dalem. Yang ke dua Arya Katanggaran, dan ketiga yang terkecil bernama Arya Nuddhata, oleh karena ibu mereka berjumlah 3 (tiga ) orang, demikianlah keturunan Jaya Katta

Tersebutlah sekarang putra beliau yang nomor dua yang bernama Arya Katanggaran mengambil istri dari keluarga Kebo Ijo. Yang mana akhimya perkawinan ini melahirkan Kebo Anabrang beliau diberi nama Kebo Anabrang karena beliau diutus oleh raja Singosari ke daerah seberang Melayu dalam rangka memupuk persahabatan dengan kerajaan Melayu dan Sriwijaya karena kedua negara ini memiliki angkatan Laut yang sangat kuat dan Sriwijaya adalah ncgara Maritim. Daiam rangka persahabatan ini, Kebo Anabrang datang ke Tanah Melayu dengan pasukan yang disebut dengan nama pasukan Pamalayu (1275 –  1292). Kedatangan pasukan Pemelayu dari daerah Melayu setelah menyelesaikan masa tugasnya, maka setibanya di Singosari mereka tidak melihat lagi kerajaan Singosari, sehingga datanglah Kebo Anabrang ke kerajaan Mojopahit karena kerajaan Mojopahit diperintah oleh Raden Wijaya yang merupakan pewaris langsung dan kerajaan Singosari, disamping Raden Wijaya juga menikahi ke empat putri kerajaan Singosari.

Kedatangan Kebo Anabrang dari Melayu maka beliau membawa dua orang putri yang bernama Dara Petak dan Dara Jingga kedua putri kerajaan Melayu ini dipersembahkan kepada Raden Wijaya. Dara Petak diperistri oleh Raden Wijaya, yang nantinya melahirkan putra bernama Kala Gemet. Sedangkan Dara Jingga kawin dengan keluarga raja maka lahirlah Aditya Warman, yang nantinya menjadi raja di kerajaan Melayu.

Kedatangan pasukan Pemelayu ini membuat besarnya hati Raden Wijaya di kerajaan Mojopahit, oleh karena itu beliau menobatkan diri menjadi raja pada tahun 1294, serta didampingi oleh Panglima perang Kebo Anabrang. Setelah beberapa lama Kebo Anabrang bertempat tinggal di Mojopahit, akhirnya beliau mengambil istri dari keluarga ksatrya keturunan Singosari. Perkawinan dengan putri Singosari, melahirkanlah ia seorang putra bernama Kebo Taruna, yang merupakan nama yang diberikan oleh ayah beliau saat beliau masih kecil, sedangkan nama julukan yang diberikan kepadanya, bila menghadapi perang dan sebagai panglima perang, adalah Sirarya Singha Sardhula, karena beliau bagaikan singa menghadapi musuh di medan perang. Lama kelamaan Kebo Taruna ini diberi pula julukan Kanuruhan saat beliau diajak oleh Gajah Mada mengadakan penyerangan ke Bali, dalam rangka melaksanakan sumpah Palapa. Beliau diberi nama Kanuruhan karena jabatan beliau dalam expidisi ke Bali, yang lama kelamaan beliau memakai gelar Sirarya Kanuruhan.

PERKEMBANGAN KELUARGA KANURUHAN DI BALI.

Tahun 1343 adalah mempakan tahun expedisi (penyerangan) Gajah Mada ke tanah Bali, karena pada waktu ini raja Bali yang bergelar Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten telah merasa yakin akan kekuatan dirinya dan ingin melepaskan diri dari kerajaan Mojopahit yang pada waktu ini diperintah oleh seorang raja putri bernarna Tri Bhuana Tungga Dewi. Karena pada umumnya raja raja Bali sangat erat hubungannya (hubungan darah) dengan raja Kediri, schingga sangatlah sukar bagi raja Bali untuk melepaskan diri dengan raja Kediri. Untuk itu raja Bali mengadakan persekongkelan dengan raja Suradenta dan Suradenti dari Kerajaan Blambangan dalam rangka bekerja sama untuk menggempur Mojopahit, dan kerja sama ini di tanda tangani oleh Maha Patih Pasung Grigis mengatas namakan raja

Pimpinan Expedisi ke tanah Bali, di pirnpin langsung oleh Gajah Mada beserta arya – arya lainnya sehingga Bali di kepung dan di gempur dari empat jurusan yakni dari jurusan Timur di bawah pimpinan Gajah Mada.

Dari jurusan Utara di bawah pimpinan Arya Damar, Arya Sentong dan Arya Kuta waringin

Dari jurusan Barat di pimpin oleh tentara Sunda

Dari jurusan Selatan di pimpin oleh Arya Kenceng, Arya Belog, Pengalasan, Arya Kanuruhan, dan Arya Belotong.

Sedangkan Panglima Bali pada saat ini muncullah:

Menghadapi serangan Timur, dipimpim oleh Ki Tunjung Tutur dan Ki Kopang

Menghadapi serangan dari Utara Ki Girilemana dan Ki Bwangkang.

Menghadapi serangan dari Selatan, di pimpin oleh Ki Gudug Basur, Dhemung Anggeh, dan Ki Tambyak,

Menghadapi serangan umum, Ki Pasung Grigis dan Pangeran Madatama

Dalam perang yang sengit ini masing-masing panglima telah di hadang oleh Panglima Bali, maka tersebut sira Arya Kanuruhan yang memimpin pasukan dari Selatan disambut dengan gegap gempita oleh tentara Bali dengan sorak gemuruh beserta gagah perkasa sehingga terjadi pertempuran yang sangat mengerikan, banyak para tentara yang gugur di medan perang. Ki Tambyak dapat di kalahkan oleh si Arya Kenceng, sedangkan Ki Gudug Basur sangat kebal tidak ditembus dengan senjata. Perang yang dasyat antara Si Arya Kanuruhan dengan Ki Gudug Basur, sama-sama kuat dan sama sama kebal. Oleh karena Ki Gudug Basur hanya sendirian, menghadapi Panglima Mojopahit silih berganti, akhimya Ki Gudug Basur mati kepayahan kehabisan nafas.

Bedahulu terkepung dari semua jurusan pertempuran berkobar dan menimbulkan korban yang sangat banyak.

Pangeran Madatama pemimpin perang merupakan putra mahkota, kerajaan Bedahulu gugur dalam pertempuran dan gugurnya putra mahkota ini menyebabkan sedihnya raja Bedahulu dan akhirnya wafat. Pertempuran di lanjutkan oieh Ki Pasung Gerigis dan pasukan Ki Pasung Grigis tidak mampu ditandingi oleh pasukan Gajah Mada dan Arya lainnya sehingga pasukan Gajah Mada merasa kewalahan menghadapi pasukan Pasung Grigis, yang akhimya pasukan Gajah Mada menaikkan bendera putih, untuk mengadakan perundingan dengan Pasung Grigis. Pasung Grigis sangat gembira karena itu terjadilah persahabatan dengan tentara Mojopahit. Pada saat terjadi perdamaian ini datanglah utusan dari Mojopahit, yaitu Kuda Pengasih yang merupakan adik sepupu dari Ken Bebed yaitu istri dari Gajah Mada. Kedatangan Kuda Pengasih ke Bali untuk memohon agar Gajah Mada cepat kembali ke keraton Mojopahit

Pada kesempatan yang baik ini Gajah Mada mengajak Ki Pasung Grigis pergi ke Mojopahit dcngan membawa emas manik, sebagai tanda persahabatan. Setelah berada di Mojopahit, Ki Pasung Grigis merasa dirinya tertipu, dimana ia menang perang, namun kalah taktik, karena menghadap Mojopahit berarti kalah total

Pada saat Gajah Mada meninggalkan Bali, maka untuk keamanan pulau Bali, maka Gajah Mada menempatkan tentaranya di pulau Bali sebagai berikut:

Arya Kuta Waringin di Gelgel

Arya Kenceng di Tabanan

Arya Dalancang di Kapal

Arya Belotong di Pacung.
Arya Sentong di Carang sari
Arya Kanuruhan di Tangkas.
Kryan Punta di Mambal.

Kryan Jerudeh di Temukti.
Kryan Tumenggung di Patemon

Arya Demung Wang Bang di Kertalangu. (keturunan Kediri). Arya Sura Wang Bang (Keturunan Lasem) di Sukahet.

Arya Wang Bang (Keturunan Mataram) di pusat Bedahulu,
Arya Melel Cengkrong (Jaran bhana) di Jembrana.

Arya Pemacekang di Bondalem.

Untuk meredakan hati Ki Pasung Grigis terhadap Mojopahit maka Pasung Grigis diangkat sebagai menteri kerajaan Bedahulu, namun tetap diawasi oleh Gajah Mada. Untuk menguji kesetiaan Pasung Grigis terhadap Mojopahit maka Pasung Grigis di perintahkan untuk menumpas gerakan raja Sumbawa, yang bernama Dedela Natha, yang ingin melepaskan diri terhadap kerajaan Mojopahit, disinilah Ki Pasung Grigis mati dalam medan perang bersama – sama dengan raja Sumbawa dalam perang tanding.

Dengan tiadanya Ki Pasung Grigis terjadilah kekosongan pemerintahan di pulau Bali. Walaupun sebagian besar tentara Expidisi Gajah Mada di tempatkan di pulau ini untuk mengawasi keamanan, tetapi ternyata pasukan ini tidak mampu menjamin ketertiban sepenuhnya, karena tentara Mojopahit kurang bijaksana dan selalu memperlihatkan keangkuhan sebagai seorang pemenang,  sedangkan orang Bali belum bisa menerima pemerintahan Mojopahit yang bukan merupakan keturunan raja – raja Daha, dengan demikian keadaan semakin menjadi kacau karena munculnyapemberontakan – pemberontakan.

Mclihat keadaan Bali semakin rumit, maka Patih Ulung, Pamacekan clan Ki Pasekan, Kiyayi Padang Subadra memberanikan diri menghadap ke Mojopahit dan mohon diadakan wakil raja yang mampu meredakan ketegangan yang ada di tanah Bali

Terpikirlah oleh Maha Patih Gajah Mada untuk mencari tokoh yang masih ada hubungannya dengan raja raja Daha, tetapi tidak diragukan kesetiaannya terhadap Mojopahit. Setelah dinindingkan maka terpilihlah putra dari Mpu Kepakisan yang bcrnama Empu Kresna Kepakisan seorang keluarga Brahmana yang masih ada hubungan darah dengan Daha (Kediri), sehingga dengan pengangkatan ini maka status kebrahmanaannya diturunkan menjadi Ksatrya.

Kedatangan Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali (beliau dinobatkan pada tahun ” Yoga Munikang netra den ing Bhaskara ( 1274 Caka) maka beliau tidak memilih tempat di Bedahulu.  Akan tetapi beliau menempatkan diri di Samprangan, dengan maksud untuk menjauhkan diri dari ketegangan – ketegangan dalam ibu kota, akan tetapi cukup dekat untuk mengadakan pengawasan, sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan obyektif. Ketertiban Bali ternyata belum bisa ditertibkan, banyak orang Bali Aga masih belum mau menyatakan setia kepada penguasa Samplangan, walaupun sudah dipenuhi tuntutan – tuntutan mereka seperti yang pernah disampaikan oleh Patih Ulung. Untuk melemahkan pemberontakan Bali Aga tersebut maka Gajah Mada mengirim beberapa pasukannya ke Bali  seperti : Tan Kober, Tan Kawur, Tan Mundur, dan Arya Gajah Para, sehigga terjepitlah daerah Bali Aga dan tidak dapat berbuat banyak.

Setelah aman kerajaan, maka disusunlah struktur pemerintahan Bali seperti

Raja: Penguasa tertinggi.

Patih Agung.: Perdana Menteri.

Patih.Bata Mantra (Tanda Manteri. )

Demung (Urusan Upacara ).

Temenggung ( Pemimpin tentara Rakyat)

Di dalam mengatur pemerintahan, maka Arya Kanuruhan dan Arya Kuta Waringin mendapat tempat sebagai menteri Sekretaris Negara, karena kedua orang ini merupakan ksatrya keturunan Kediri, dan sangat pandai dalam ilmu pemerintahan Negara. Untuk mengisi kekosongan dalam pemerintahan, maka diangkatlah Pangeran Nyuh Aya menjadi Patih Agung , Arya Wangbang menjadi Demung. Demikianlah akhimya raja Kresna Kepakisan wafat pada tahun isaka 1302.

Tersebutlah sekarang Si Arya Kanuruhan yang menjadi Menteri Sekretaris Negara dan bertempat tinggal di wilayah Tangkas, kini beliau telah menginjak masa tua dan beliau telah banyak menulis buku – buku tentang Sasana Mantri (tugas dari masing – masing Mantri). Oleh karena itu beliau selalu diikutsertakan sebagai pendamping raja guna memberikan pertimbangan sesuatu sebelum diputuskan oieh raja.

Segabai generasi penerus yang dilahirkan oleh Arya Kanuruhan antara lain adalah:

-Arya Brangsinga, anak yang tertua

-Arya Tangkas, adalah putra beliau yang nomor 2 ( dua ).

-Arya Pegatepan adalah putra beliau yang nomor 3

BRANGSINGA

Putra beliau seperti tersebut di atas memiliki ilmu yang sama dalam pemerintahan negara oleh karena itu kesemua putra beliau dipergunakan sebagai pendamping raja. Sedangkan putra beliau yang tertua yaitu Arya Brangsinga diangkat oleh raja sebagai pengganti ayahanda Arya Kanuruhan sebagai menteri Sekretaris Negara. Yang sangat menyukarkan bagi Arya Brangsinga dalam pemerintahan, karena sang raja yang bergelar Dalem Hile kurang waras, sehingga akhirnya banyak yang menghadap dari Jawa tidak puas, oleh karena itu Arya Brangsinga akhimya mengadakan sidang kerajaan untuk mengambil keputusan untuk pengangkatan Dalem Ketut Ngelesir menjadi Raja. Beliau Dalem Ketut Ngelesir, setiap hari pergi ke desa – desa untuk berjudi, berkat kebijaksanaan para Mantri maka akhimya beliau diketemukan di desa Pandak oleh Bendesa Gelgel dan di sini beliau dimohonkan untuk menjadi raja, sehingga berdirilah kerajaan baru, yaitu kerajaan Gelgel, tahun 1305 Caka.

Di dalam menjalankan pemerintahan, Dalem Ketut Ngelesir mengangkat beberapa pendamping antara lain :

-Kryan Patandakan, menjadi Tanda Mantri.

-Arya Kebon Tubuh, menjadi Patih.

-Arya Brangsinga menjadi Menteri Sekretaris Negara.

Arya Brangsinga yang berkedudukan sebagai Mentri Sekretaris Negara, lalu beliau mempunyai dua orang putra yang diberi nama :

-Kiyayi Brangsinga Pandita (anak pertama)

-Kiyayi Madya Kanuruhan (anak ke dua)

Kedua putra beliau ini sangat tampan dan memiliki ilmu pemerintahan yang sangat tinggi oleh sebab itu salah satu putra beliau yang bernama Kiyayi Brangsinga Pandita, dipercayakan sobagai pendamping raja Dalem Ketut Smara Kepakisan ( Dalem Ketut Ngelesir). saat beliau diundang untuk menghadap kepada Sri Maha Raja Hayam Wuruk di Kcrajaan Mojopahit, pada waktu raja Hayam Wuruk akan melakukan upacara Caradha, yaitu upacara yang dilakukan setiap 12 tahun sekali dengan tujuan untuk menghormati arwah nenek moyang raja – raja Mojopahit. Disamping upacara ini sebagai upacara kcagamaan maka upacara ini mengandung pula arti politik dimana pada upacara ini menghadaplah para adipati dan raja raja bawahan dengan membawa upeti sebagai tanda patuh, sehingga raja Hayan Wuruh, martabatnya menjadi naik.

Pada saat menghadapnya raja Bali dihadapan Sri Baginda Hayam Wuruk, maka raja Bali mendapat pituah di dalam pemerintahan hendaknya berpegang teguh pada Manawa Dharma Sastra, yang merupakan pedoman hukum di dalam menjalankan roda pemerintahan. Disamping itu maka Sri Baginda Maha Raja Mojopahit juga menganugrahkan keris kepada raja Bali yang diberi nama:

-Keris Canggu Yatra, karena keris ini dapat berputar-putar di desa Canggu.

-Keris yang diberi nama Naga Basuki yaitu keris yang berisi gambaran Naga Taksaka yang sangat sakti.

Setelah tiba di pulau Bali, maka pemerintahan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kerajaan Mojopahit.

Pada saat pemerintahan Dalem Watu Renggong di Gelgel, tersebutlah beliau Kiyayi atau Arya Brangsinga telah menjadi tua dan akhirnya beliau diganti oleh putra beliau yang tertua yaitu Arya ( Kiyayi) Brangsinga Pandita sebagai Manteri Sekretaris Negara. Karena mahirnya beliau di dalam ilmu ke Tata Negaraan maka beliau di berikan anugrah atau piagam oleh raja Dalem Waturenggong yang disaksikan oleh brahmana – brahmana keturunan Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh.

Adapun isi piagam itu sebagai berikut:

” Hai kita Brangsinga, kita tosing Ksattya, mangke Arya pwa pawakanta, apaart ira amatihi ingong, Ingong Iccha Pyagam,gagaduhan iawan kita, sinerating lapihan, maka pamiket baktin ta atuhan, Yeka wistrakena, ri santana prakti santananta kateka tekeng wekas, didine tan singsala ring ulah anawi, angamong manteri sasana, mwang sapratyekaning pati Iawan hurip, Ingong lugraha ri kita, aywa cawuh mwang bucecer, aywa predo, apan donating uttama ri kawanganta, mwah wus siddha linugrahan, de sang wawu rauh, apan mangkana mulaning Wilwatikta”

Arti bebas:

Hai engkau Brangsinga, kamu adalah keturunan dari Ksatrya, sekarang kamu kuberikan  nama Arya karena kamu sangat patuh padaku (raja), aku akan memberikan piagam kepadamu,  yang kamu harus pegang atau tulis pada lempengan, sebagai tanda baktimu kepada raja, itulah yang patut engkau ikuti, sampai dengan keturunanmu, agar jangan menimbulkan hal yang tidak baik di dalam kamu mengabdi, kamu sewajarnyalah memegang kewajiban – kewajiban yang harus dilakukan oleh para menteri (menleri sasana ) baik memberikan hukuman mati maupun hidup, hal ini aku serahkan semuanya padamu, janganlah kamu bermain main, dan janganlah kamu lengah, oleh karena maha utama penugrahanku ini.

Setelah diberikan anugrah yang maha suci oleh Sang Pandita Wawu Rawuh (disaksikan) karena dialah (Brangsinga) yang ikut datang dan menerima anugrah di Mojopahit.

Demikianlah bunyi piagam yang diberikan oleh raja (Dalem) kepada keluarga Barangsinga yang diterima olch Kryan Brangsinga Pandita, dengan ucapan terima kasih di bawah duli tuanku raja semoga piagam tersebut dapat dipahami dan dilaksanakan olch prati sentanan atau turunan hamba. Setelah lama Kiyayi Brangsinga berada di bumi maka beliau dimakan waktu dan menjadi tua dan akhimya wafat. Sebelum beliau meninggalkan dunia ini, beliau telah memiliki 2 ( dua ) orang putra yaitu:

-Ki Gusti Singa Kanuruhan, beliau diangkat menjadi patih untuk melakukan perang.

-Ki Gusti Madya Kanuruhan, beliau mengantikan ayah beliau menjadi Mantri Sekretaris Negara.

I Gusti Singa Kanuruhan yang menjadi Patih atau senapati beliau menikah dengan seorang wanita dari Padang Rata, dan berputra 3 ( tiga ) orang, dua laki laki dan satu perempuan yang diberi nama:

-Yang pertama Ki Gusti Brangsinga Pandita (untuk mengenang nama kakek beliau).

-Putra yang kedua ini adalah wanita, diberi nama I Gusti Luh Padangrata.

-Putra yang ketiga dan yang terkecil, adalah I Gusti Singa Padangrata

I Gusti Madya Kanuruhan yang menjabat Menteri  Sekretaris Negara dalam zaman pemerintahan Dalem Bekung, dan dari beliau ini memiliki tiga  putra antara lain:

-Ki Gusti Gede Singa Kanuruhan.

-Ki Gusti Madya Abra Singosari

-Ni Gusti Ayu Brangsinga yang nanti diperistri olch I Gusti Ngurah Jelantik (cucu dari Jelantik Bogol) .

Tersebutlah kemudian Ki Gusti Madya Abra Singosari beliau ini menggantikan kedudukan ayahanda menjadi Menteri Sekretaris Negara, yang mana beliau mengambil istri dari Padang galak, akhirnya berputralah beliau yang diberi nama:

-Ki Gusti Luh Padang Galak.

-Ki Gusti Singa Lodra.

-Ki Gusti Kesari Demade.

Ki Gusti Madya Kanuruhan karena setia beliau pada raja Dalem Bekung, dimana kesalahan yang dilakukan oleh Dalem Bekung mengenai masalah perempuan maka meletuslah pemberontakan baru yang dipimpin oleh Pande Base, sehingga raja Dalem Bekung melarikan diri yang pertama ke arah Kapal dan kemudian pindah ke Purasi, disinilah beliau menetap beserta Kiayi Gusti Madya Kanuruhan.

Setelah Gelgel kosong naiklah menjadi raja Ida Dalem Anom Sagening. Dalam pemerintahan beliau sangat aman dan pembrontakan – pembrontakan mulai dipadamkan. Oleh sebab Ki Gusti Madya Kanuruhan mengikuti Dalem Bekung dan bertempat tinggal di Purasi maka sebagai Menteri Sekretaris Negara dalam pemerintahan Dalem Sagening adalah Ki Gusti Madya Abra Singosari.

Salah satu keturunan dari Brangsinga ini, ada pula di kirim ke tanah Lombok, setelah beliau mengalahkan musuh di Kuta. Adapun beliau ini bernama Ki Gusti Singa Padang Rata, putra dari I Gusti Brangsinga Pandita. Oleh karena I Gusti Brangsinga Pandita hanya memiliki satu putra, dan telah dikirim beperang ke tanah Lombok, maka beliau menjadi sepi yang akhirnya beliau kawin lagi dengan I Gusti Luh Padang Galak. Dari Perkawinan ini maka memperolehlah 3 ( tiga ) orang putra antara lain I Gusti Padang Rata, yang nantinya ditempatkan di desa Tanggu Wisia, putra nomor dua bernama I Gusti Padang Galak dan yang tcrkecil, Ki Gusti Padang Kanuruhan yang kemudian bertempat tinggal di Kuta

Diceritakan kemudian I Gusti Singa Lodra, putra dari I Gusti Abra Singosari, beliau pergi meninggalkan Gelgel menuju desa Blahbatuh , bersama dengan Kryan Jelantik yang masih merupakan ipar beliau di Belahbatuh. Beliau bertempat tinggal di desa Brangsinga di sebelah Selatan dari kota Belahbatuh, disini beliau kawin lagi, maka beliau memperoleh putra tiga orang yaitu Ki Gusti Sabranga, yang nantinya berdomisili di Seblanga (Badung), Ki Gusti Made Belang beliau bertempat tinggal di Blangsinga (Blahbatuh) dan I Gusti Padang Singa

Dari Putra kedua yaitu Ki Gusti Made Belang, beliau di Blangsinga, barputra I Gusti Singa Padu, I Gusti Singa Perang, I Gusti Padang Singa, dan IGusti Singa Aryata,

Kcmbali kita membicarakan masalah Gclgel. Sepeninggal beliau I Gusti Singa Lodra, maka kedudukan sebagai menteri Sekretaris Negara dipegang olch putra bcliau yang bernama I Gusti Brangsinga Pandita dan Ki Gusti Madya Kanuruhan

Suatu putra yang lain dari Brangsinga, adalah putra dari I Gusti Gcde Singa Kanurahan dan I Gusti Madya Abra Kanuruhan kedua putranya mengikuti penyerangan dalem Pemayun ke Purasi untuk membela Dalem Bekung yang di kepung oleh Kryan Made dari ketumnan Kcbon Tubuh.

Adapun putra lain yang dimiiiki oleh Singa Gede Kanurungan lalah: I Gusti Singa Nabrang, I Gusti Madya Abra Singosari, I Gusti Nyoman Singosari & I Gusti Singa Gara.Adapun putra ke dua dari Singa Gede Kanuruhan, yang bemama I Gusti Made Abra Singosari beliau berputra I Gusti Wayan Singa Kanuruhan, I Gusti Kesari Dimade,  I Gusti Nyoman Singa Rai dan Ki Grusti Nyoman Singa Raga.

Sedang putranya yang bernama Ki Gusti Singha Anabrang, beliau menjadi kepala Desa Watwaya di Karangasem, dan bertempat tinggal di Selatan Pasar

Ki Gusti Nyoman Singosari beliau akhirnya bertempat tinggal di Mengwi, dan akhirnya beliau pergi ke desa Penebel, dan terakhir beliau betempat tinggal di desa Rangkan. Ki Gusti Singa Gara beliau memerintah di Subagan.Putra putra beliau Abra Singosari seperti Ki Gusti Wayan Singa Kanuruhan memerintah di desa Ulakan, Ki Gusti Kesari Dimade, memerintah di Ujung, Ki Gusti Nyoman Singa Rai memerintah di Desa Abyan Jero.

TANGKAS.

Putra dari Arya Kanuruhan yang kedua adalah Kiyayi Tangkas yang sering pula disebut Pangeran Tangkas. Beliau bertugas (mendapat tugas) dari raja sebagai Rakryan Patih, karena Kiyayi Tangkas sangat bakti kepada Dalem.  Karena kesetiaan Pangeran Tangkas terhadap raja maka segala perintah raja tidak pernah ditolaknya.

Tersebutlah Pangeran Tangkas diperintahkan oleh Raja untuk memegang tampuk pemerintahan di wilayah Kertalangu oleh karena pemegang wilayah Kertalangu ( keturunan Arya Demung Wangbang) meninggalkan wilayah tersebut karena mereka dikalahkan oleh semut. Untuk mengisi dan mengamankan wilayah Kertalangu ditempatkanlah Pangeran Tangkas di sana.

Di Kertalangu inilah akhimya Pangeran Tangkas tinggal menetap. Pangeran Tangkas mempunyai seorang putra, yang bemama Kiyayi Tangkas Dimade. Karena dimanjakan akibatnya Tangkas Dimade akhimya buta mengenai huruf sandi.

Pada suatu hari ada seorang yang dianggap salah oleh raja dan menurut sesana (hukum) orang ini harus dihukum mati. Orang yang salah ini diutus oleh raja (Dalem) untuk membawa surat ke Badung (Kertalangu). Adapun isi surat ini adalah

pa – pa – nin – nga – tu – se – li – ba – ne – te –tih.

Dalam tulisan rahasia tersebut di atas, Dalem bermaksud membunuh orang yang membawa surat ini, akan tetapi setelah sang membawa surat tiba di Kertalangu, maka Pangeran Tangkas saat ini tidak berada di rumah, karena beliau pergi ke tegalan mencari burung, oleh sebab itulah anaknya didekati oleh utusan tersebut, dan Tangkas Dimade yang sedang bekerja di sawah lalu diberikan surat tersebut karena Tangkas Dimade tidak bisa membaca hurup sandi maka surat yang diberikan oleh utusan tersebut diterima demikian saja. Setelah surat tersebut diterima maka utusan tersebut pergi dengan cepat. Pada saat ayahnya tiba di rumah maka ayahnya didekatinya serta diaturkan surat tersebut kepada ayahnya dan dengan segera surat tersebut dibaca isinya, berkatalah ayahnya kepada putranya Tangkas Dimade. ; ” Anakku Tangkas, apakah dosa yang kamu buat terhadap Dalem ? Karena isi surat ini menyebutkan bahwa ayah membunuh bagi ia yang membawa surat ini. Siapakah yang membawa surat ini? Apakah dosamu terhadap Dalem?”, dan bingunglah ayahnya berpikir – pikir mengenai hal tersebut. Berkatalah putra beliau,” Ya ayahku sama sekali saya tidak merasa diri bersalah terhadap Dalem, sedikitpun saya tidak merasakannya, bersalah terhadap beliau sungsungan kita”.

Mendengar ucapan putranya  itu menangislah ayahnya, sambil menasehati anaknya ” Jika demikian halnya, tetapkanlah pendirianmu sebagai tanda bakti pada raja (Dalem), bila kamu benar, hari ini merupakan jalan utama yang ditunjukkan kepadamu unluk menuju ke jalan sorga”. Banyak lagi nasehat – nasehat yang diberikan kepada anaknya dalam rangka menghadapi kematian itu. Sehingga hati anaknya mempunyai keikhlasan untuk siap mati dibunuh oleh ayahnya.

Tak beberapa lama tersebarlah berita di seluruh wilayah Kertalangu bahwa Tangkas Dimade akan dibunuh oleh ayahnda. Sehingga banyaklah warga desa Kertalangu datang beritanya mengenai hal ikhwal terjadinya musibah tersebut. Sebelum anaknya dibunuh, maka disuruhlah Tangkas Dimade melakukan persembahyangan, setelah itu dilaksanakannlah upacara mejaya – jaya dengan diberikan puja oleh Pendeta Ciwa dan Buddha.

Setelah selesai upacara mejaya – jaya maka diantarlah putranya menuju setra tempat pembunuhan, di dalam perjalanan menuju ke setra, Tangkas Dimade diiringi oleh isak tangis sepanjang jalan, karena Tangkas Dimade sangat sopan dalam pergaulan, dan masih jejaka, dan sedang senangnya hidup.

Setelah tiba di kuburan, disuruhlah Tangkas Dimade melakukan persembahyang­an kearah empat penjuru mata angin di tempat pembakaran jenasah, untuk memohon tempat yang layak bagi dirinya kepada Sang Hyang Dharma. Setelah selesai melakukan persembahyangan, maka ayah Pangeran Tangkas mengambil keris lalu menusuk putranya yang tercinta, hanya satu kali tusukan, robohlah Tangkas Dimade pada saat itu juga.

Diceritrakan kembali orang yang membawa surat tersebut kini telah tiba di istana Dalem di Gelgel, lalu menghaturkan sembah kepada raja dengan mengatakan,”Maafkan hamba ratu Dalem, bahwa segala perintah yang tuanku berikan kepada hamba, hamba telah laksanakan dan kini hamba telah kembali dengan selamat”.

Melihat kejadian ini maka terkejutlah Dalem dan beliau berkata, “Hai kamu utusanku, apa sebabnya kamu cepat kembali ? Siapakah yang kamu berikan surat perintahku itu? Katakanlah dengan cepat !”

Bersembah sujud utusan tersebut, lalu berkata,” Maafkan hamba tuanku, surat perintah tuanku telah hamba berikan kepada putra dari Ki Pangeran Tangkas, akan tetapi surat tersebut hamba haturkan saat putra beliau berada di tengah sawah. Oleh sebab Pangeran Tangkas beliau tidak ada di rumah, dan setelah itu hamba balik kembali ke istana, itulah sebabnya hamba dengan cepat tiba kembali.”

Mendengar uraian yang disampaikan itu maka sangat terkejutlah sang raja dan segera mengutus seorang utusan untuk lari dengan cepat ke Kertalangu (Badung) untuk mencegah pembunuhan yang dilakukan oleh Pangeran Tangkas. Walaupun bagaimana cepatnya utusan menunggang kuda, akan tetapi kecepatan ini sudah terlambat dimana utusan ini telah melihat sendiri mayat putra Pangeran Tangkas telah terbunuh. Tercenganglah utusan raja karena terlambat dan segera kembali ke Gelgel. Lalu melaporkan hal ini kepada sang raja. Setelah menerima laporan, beliau menjadi diam, dan berkata dalam hati beliau ” Oh Tangkas engkau bunuh puteramu sendiri  yang tidak ada bersalah sama sekali karena baktimu kepadaku”.

Tersebutlah Pangeran Tangkas sekarang telah ditinggalkan mati oleh putra beliau, beliau lama tidak mau menghadap kepada Dalem karena sedih hati beliau, walaupun Dalem telah berkali-kali memanggil beliau untuk menghadap, akan tetapi perintah Dalem tidak diperhatikan.

Melihat hal semacam ini berpikir-pikirlah Dalem dan akhimya diutuslah seorang utusan untuk menghadap kepada Pangeran Tangkas di Kertalangu (Badung), untuk meminta dengan sangat agar Pangeran Tangkas datang untuk menghadap raja. Pada saat inilah pertama kali Pangeran Tangkas datang ke Puri Gelgel. Pada saat tibanya Pangeran Tangkas di istana Gelgel, raja sedang mengadakan rapat dengan para Maha Menteri, Patih, dan lain – lainnya. Melihat Pangeran Tangkas datang maka raja meninggalkan rapat, lalu menerima kedatangan Pangeran Tangkas, serta dengan cepat raja berkata,” Marilah engkau dekat padaku Tangkas!” Berdatang sembahlah Tangkas, “Maafkan hamba orang yang hina dina ini duduk di bawah Tuanku.” Mendengar ucapan Pangeran Tangkas ini dengan nada sedih, berkatalah kembali Sang Raja,” Hai kamu Kiyayi Tangkas, bangunlah kamu, dan janganlah kamu duduk di bawah, marilah engkau dekat denganku. Karena perintah raja yang tegas ini maka bangunlah Pangeran Tangkas dari tempat duduknya terbawah, dan berdatang sembah mendekati raja.

Dengan mendekatnya Pangeran Tangkas kepada raja, maka mulailah raja berkata kembali kepada Pangeran Tangkas, dengan lembut, dan kata beliau sebagai berikut,” Hai Kiyayi Tangkas, aku ingin bertanya kepadamu, apakah yang menyebabkan kamu lama tidak menghadap kepada rajamu?Apakah hai tersebut disebabkan karena anakmu yang mati yang disebabkan perintahku yang kurang tegas itu padamu?” Mendengar pertanyaan raja ini, menyautlah Pangeran Tangkas ,” Maafkanlah hamba tuanku, hamba lakukan itu semua karena bakti hamba kepada sungsungan hamba yaitu Tuanku sendiri. “ Mendengar ucapan Pangeran Tangkas itu terketuk hati Sang raja, karena mengenang bahwa keturunan itu adalah yang amat penting dalam ajaran agama, karena itulah beliau berpikir – pikir lalu bersabda:

“Hai kamu Pangeran Tangkas, janganlah karena kejadian tersebut engkau menjadi sedih, karena hal tersebut sudah berlalu, dan tidak akan bisa kembali lagi, lupakanlah itu semua! Akan tetapi untuk meneruskan keturunanmu itu agar Tangkas jangan menjadi lenyap, maka kini aku akan memberikan kepadamu seorang istriku yang sedang hamil, dan umur kandungannya baru 2 bulan, istriku inilah engkau harus ambil, untuk meneruskan keturunanmu, sehingga keturunan Tangkas tidak putus akan tetapi ada yang ku minta kepadamu adalah

  1. Janganlah kamu menghilangkan (anyapuh) persanggamaan yang telah dilakukan olehku sendiri!
  2. Apabila anak itu telah lahir kemudian, maka anak tersebut kamu beri nama dan panggil dengan nama Ki Pangeran Tangkas Kori Agung

Dari hal tersebut di atas maka Tangkas lalu berkata, “Maafkanlah hamba Tuanku Dewa Bhatara, apabila hamba mengambil istri Tuanku, maka hamba akan terkutuk, sehingga hamba kena tulah dan hamba disebut langgana oieh seluruh jagat.”

Kemudian berkatalah Sang raja kembali, ” Hai kamu Tangkas janganlah kamu berpikir demikian, ini adalah perintahku dan engkau harus laksanakan. “

Karena hal ini merupakan perintah Sang raja, maka istri raja kemudian diambil oleh Tangkas, lalu di bawa ke Badung, dan sampai di Badung, maka diadakannya suatu upacara perkawinan yang sangat besar, dengan mengundang banyak keluarga.

Setelah upacara selesai maka lama kelamaan lahirlah seorang putra laki yang sangat tampan dan gagah perkasa yang diberi nama PANGERAN TANGKAS KORI AGUNG . Oleh karena itu gembiralah wilayah Kertalangu kembali.

Di dalam beberapa sumber menyebutkan bahwa istri raja yang dianugrahkan kepada Kiyayi Tangkas pada masa mudanya bernama Ni Luh Kayu Mas, yang berasal dari keluarga Bendesa Mas. Lahirlah putra raja yang bemama Pangeran Tangkas Kori Agung di tengah – tengah keluarga Tangkas, maka secara biologis beliau adalah putra raja atau putra Dalem. Akan tetapi secara adat, beliau adalah pewaris langsung dari keluarga Tangkas.  Setelah Pangeran Tangkas Kori Agung menjadi remaja, beliau sering datang dan menghadap Dalem di Gelgel. Melihat hal ini akhimya ssng raja meminta kepada Pangeran Tangkas Kori Agung, untuk kawin dan mengawini putri dari keturunan Arya Kepasekan, dengan tujuan agar kesatuan rakyat Bali dan keturunan dan
Jawa tetap terpelihara, oieh karena Patih Arya Kepasekan adalah patih Bali yang merupakan keturunan langsung dari Arya Kepasekan yang pernah datang ke Mojopahit untuk menghadap kepada Patih Gajah Mada, bersama dengan pembesar Bali lainnya, seperti: Arya Pasek dan Patih Ulung untuk penobatan raja Bali, demi amannya Bali dari pembrontakan – pembrontakan orang yang tidak puas terhadap Mojopahit.

Berkat usaha dari ketiga Maha Patih Bali inilah akhimya Dalem Sri Kresna Kepakisan diorbitkan untuk menjadi raja di Bali, oleh Patih Gajah Mada

Untuk mengenang jasa leluhur dari Arya Kepasekan ini maka diharuskannyalah Pangeran Tangkas Kori Agung, kawin dengan putrinya. Perkawinan antara Pangeran Tangkas Kori Agung dengan Putri Arya Kepasekan, lahirlah seorang putri yang bernama Gusti Ayu Tangkas Kori Agung

Unluk melanjutkan keturunan dan Pangeran Tangkas Kori Agung dan mempererat hubungan dengan Pasek Gelgel. karena Pasek Gelgel berada di Gelgel yang mempakan pusat ibu kota kerajaan Gelgel dan puri juga berada di Geigel. Untuk itu demi amannya puri dikawinkanlah Gusti Ayu Tangkas Kori Agung dengan Gusti Agung Pasek Gelgel

Menurut Babad Pasek yang diterjemahkan olah I Gusti Bagus Sugriwa, penerbit Toko Buku Balimas, tahun 1982, halaman 82, maka dijelaskanlah status parkawinan ini sebagai berikut

“Hai anakku Gusti Agung Pasek Gelgel, karena engkau suka kepada anakku, kini bapak menyerahkan diri kepadamu, oleh karena bapak tidak mempunyai keturunan laki, kini ada seorang anakku perempuan, saudara sepupu olehmu, apabila kamu suka, bapak berikan kepadamu, Gusti Ayu. Dan lagi ada harta benda bapak, yaitu isi rumah tangga serba sedikit, pelayan 200 orang, semuanya itu anakku menguasainya. Pendeknya engkau menjadi anak angkatku. Kemudian bapak pulang ke alam baka, supaya anakku menyelesaikan jenazahku. Yang penting permintaanku ialah agar sarna olehmu melakukan upacara sebagai bapak kandungmu sendiri, dan peringatanku kepadamu, oleh karena dahulu ada permintaan Pangeran Mas kepada leluhur kita yaitu supaya jangan putus turunan – turunan kita dengan sebutan Bendesa Sebab supaya mudah oleh beliau kelak mengingati turunan – turunan beliau bila ada lahir dan beliau.

Kini oleh karena bapak memang berasal dari sana, sebab itu bapak minta kepadamu bila kemudian ada anugrah Tuhan kepadamu terutama kepada bapak, ada anakmu lahir dari sepupumu Ni Luh Tangkas, supaya ada juga yang memakai sebutan Bendesa Tangkas itu sampai kemudian supaya mudah leluhur kita mengingati turunan turunannya nanti di Sorga.” ( Babad Pasek oleh I Gusti Bagus Sugriwa, halaman 82, tahun 1982).

Demikjanlah kata – kata yang dikeluarkan oleh Pangeran Tangkas Kori Agung, lalu Ki Gusti Pasek Gelgel berunding dengan saudara – saudara sepupu dan mindonnya, akhimya disetujui oleh semua saudara – saudara Pasek, sehingga akhimya terjadilah perkawinan sesuai dengan permintaan Pangeran Tangkas Kori Agung.

Jadi status perkawinan ini adalah I Gusti Pasek Gelgel selaku sentana yang kawin dengan I Gusti Ayu Tangkas Kori Agung, diupacarai sangat meriah, di rumah Tangkas Kori Agung, yang juga hadir dalam perjamuan itu semua keluarga I Gusti Pasek Geigel, di samping tamu yang lainnya.

Dari perkawinan antara Gusti Ayu Tangkas Kori Agung dengan Gusti Pasek Gelgel, maka dikaruniai empat orang putra dengan nama yaitu:

Anak yang pertama bernama Pangeran Tangkas Kori Agung.

Anak kedua Bendesa Tangkas.

Anak ketiga Pasek Tangkas.

Anak ke empat, Pasek Bendesa Tangkas Kori Agung.

Demikianlah keturunan Tangkas, yang melanjutkan keluarga Tangkas seterusnya.

Karena keluarga Tangkas terus berkembang dan sangat erat hubungannya dengnn raja dan masyarakat. Maka keluarga Tangkas mendapat tugas – tugas dari raja sebagai berikut:

1. Tangkas Kori Agung adalah pengawal terdepan dari raja lebih – lebih Bendesa Tangkas yang merupakan pengawal setia dari raja Dalem Bekung, dan ikut berperang melawan Kryan Batan jeruk, yang berontak sehingga Dalem terkepung, dimana Tangkas sebagai pengawal raja terdepan, dengan susahpayah berperang dengan pasukan Batan Jeruk,yang akhirnya pemberontakan Batan Jeruk dapat dipadamkan, dan Batan Jeruk meninggal di Bunutan.

2. Karena jasanya sebagai pengawal terdepan dari raja maka Tangkas diberikan tanda jasa oleh raja berupa:

a. Tangkas tidak boleh dihukum mati.

b. Tidak boleh dirampas artha bendanya.

c .Bila Tangkas harus dihukum mati, maka hukuman mati dapat dilakukan dengan hukuman buangan selama satu bulan.

d. Bebas pajak.

e. Bila Tangkas harus kena denda lainnya, harus dihapuskan jasmat kataku, bila hakim berani melanggar, semoga terkutuk oleh Tuhan.

3. Melakukan upacara yang ada di Besakih.

PEGATEPAN.

Putra dari Arya Kanuruhan yang nomor tiga adalah Kiyayi Pegatepan. Putra beliau yang ketiga ini adaiah sangat cerdas, disamping sangat tangkas

Sebagai seorang prajurit kerajaan, maka Kiyayi Pegatepan mendapat tugas untuk mengamankan kekacauan yang ada di daerah Tianyar (bekas daerah Ki Tunjung Tutur).

Pada masa pemerintahan Dalem di Gelgel, maka pada waktu ini yang diberikan hak untuk menguasai dan mengamankan daerah Tianyar, adalah keturunan dari Sira Arya Gajah Para. Dua orang cucunya dan Sira Arya Gajah Para yaitu Kiyayi Ngurah Tianyar dan adik kandungnya yang bernama Kiyayi Ngurah Kaler, dimana kedua kakak beradik ini mengadakan suatu persengketaan yang sangat hebat, dengan melibatkan beberapa pengikutnya di Tianyar yang menyebabkan kacaunya daerah Tianyar serta keamanan tidak terjamin.

Adapun permasalahan yang menimbulkan persengketaan sengit ini adalah masalah berselisih pendapat tentang jalannya pelaksanaan Upacara Pengabenan dari jenazah ayah mereka.

Dengan memuncaknya perang yang sangat hebat ini maka keamanan di daerah ini sangat menyedihkan sehingga kekacauan ini sampai ditelinga raja di Gelgel. Untuk mengamankan dan mendamaikan kedua kakak beradik ini dikirimkannyalah pasukan dari Gelgel di bawah pimpinan Kiyayi Pegatepan. Kiyayi Pegatepan tiba di Tianyar, dengan pasukan pilihan masuk menyelusup ke wilayah pertempuran, akan tetapi pcrtempuran sukar didamaian, sehingga Kiyayi Ngurah Tianyar dan adiknya Kiyayi Ngurah Kaler, keduanya gugur di medan pertempuran. Gugurnya kedua saudara ini masing – masing meninggalkan istri mereka dengan anak yang masih kecil (bayi).  Sedangkan Kiyayi Ngurah Kaler meninggalkan istri yang sedang mengandung.

Karena gugumya kedua cucu dari Gajah Para dan keamanan beium terjamin sepenuhnya, maka atas perintah raja Kiyayi Pegatepan ditugaskan terus di Tianyar, sampai desa tersebut betul – betul aman Karena lamanya Kiyayi Pegatepan berada di daerah Tianyar, maka makin lama makin senanglah beliau memegang wilayah tersebut dan akhirnya beliau berketetapan hati untuk tidak meninggalkan wilayah tersebut.

Di Wilayah Tianyar inilah beliau akhirnya mengambil rabi/istri yang nantinya melahirkan dua orang putra yang masing -masing putra beliau bernama, putra pertama diberi nama Kiyayi Pegatepan danputra kedua Kiyayi Madhya Bukian

Karena lamanya beliau tinggal di Tianyar, maka kedua putranya ini masing -rnasing menurunkan keturunannya. Sedemikian banyak Kelurunan inilah terus tersebar ke desa dcsa, keseluruh pelosok wilayah Bali

Tianyar merupakan daerah terpencil dimana hubunqan dengan pusat, menjadi jauh sehingga penulisan dan silsilah keluarga dan Kiyayi Pegatepan tidak diuraikan lagi.